About Free Tips

banner5656

Free Tips has many free blogger templates just for you. The collection has more than 20 templates and will be added regularly. You can choose template that suits your need and your taste. Feel free to download. You can go through this link to see the collection here.

Harry Potter Is Moving...

Gedung Kesenian Solo, harapan yang terancam

Rabu, 21 Juli 2010

Kesenian di Solo berkembang sangat dinamis, beragam bentuk dan hasil karya seni yang digawangi oleh kaum muda telah ikut berperanserta dalam memperkaya dan meningkatkan citra Solo sebagai kota seni dan budaya. Untuk saat ini, khusunya pegiat maupun komunitas seni visual seperti halnya lukis, patung, film, fotografi, grafiti, desain dan kelompok kreatif lainnya telah lama mengalami pasang surut. Pada umumnya kelompok-kelompok seni ini masih berjalan secara bergerilya dengan segala keterbatasannya, baik dari segi jaringan, pendanaan, akses maupun ruang untuk mereka berkumpul dan bersosialisasi melalui karyanya. Banyak kegiatan yang diprakarsai oleh komunitas yang secara berlahan menghilang atau bahkan berhenti karena tidak adanya kerangka kerja yang subtainable serta dukungan inisiatif yang sama dari pihak lain. Hal ini sangat berbeda dengan bidang seni pertunjukan yang sudah menjadi ikon Solo dengan segala event spektakuler yang menghias Kota Bengawan.


Masih banyak bidang-bidang seni dan budaya yang masih terpinggirkan dan seolah keberadaanya hanya menjadi pelengkap. Tak hanya seni visual, beberapa kelompok seni musik, tari dan budaya anak muda seolah masih menjadi “masalah” bagi beberapa kalangan di Solo, meski diakui ataupun tidak, kelompok-kelompok seni ini keberadaanya memang ada di Kota Solo dan telah berhasil membawa nama baik sampai tingkat Internasional. Dari ketimpangan yang terjadi itulah kemudian Gedung Kesenian Solo (GKS) yang berdiri di bekas gedung Solo Theater Sriwedari mencoba menangkap dan merespon atas munculnya kegiatan-kegiatan kreatif dan dinamika anak muda di Solo.


Keberagaman kegiatan kesenian anak muda merupakan sebuah aset terpendam, untuk itulah GKS diharapkan bisa menjadi ruang untuk berproses dan berkembang secara bersama-sama dalam segala kegiatan khususnya seni berbasis anak muda di Solo. Dalam konsepnya GKS tidak hanya menjadi tempat fisik untuk memajang atau menilai baik-buruknya sebuah karya, namun juga dapat digunakan sebagai ruang sirkulasi antar kreator muda untuk saling berjejaring dengan lintas disiplin ilmu yang berbeda. Program-program yang bermuatan edukasi seperti klinik, workshop, diskusi dan pelatihan seni yang diadakan secara reguler diharapkan akan menjadi tempat belajar alternatif kesenian di Solo, selain itu dengan dibentuknya Pool of Knowledge dalam konteks seni dan budaya anak muda, GKS akan dapat menyediakan sumber-suber informasi dalam bentuk teks, gambar maupun video yang dapat diakses seluas-luasnya oleh publik.


Sebuah tindakan awal untuk merealisasikan semua gagasan tersebut terjadi ketika masih dalam nuansa Hari Pendidikan Nasional, pada tanggal 7 Mei 2010 lalu GKS menyatakan berdiri dengan menyelenggarakan event perdana babaRasa yang merupakan program rutin pameran dan bedah karya seni. Program-program reguler lain yang sudah diselenggarakan secara rutin sebulan sekali adalah program geraKomunitas yang berisi diskusi dan ngobrol bareng komunitas seni di Solo, Klik Klinik yang merupakan program pameran dan klinik fotografi serta program gagaSinema yang merupakan acara pemutaran dan diskusi film dengan filmakernya. Selain program-program reguler, GKS juga telah menjadi tempat penyelenggaraan beberapa acara yang bersifat eventual, seperti Jakarta International Film Festival 2010, sebagai venue II acara Kongres Nasional Kegiatan Perfilman Berbasis Komunitas 2010, Bancakan Seni Segara Gunung dan beberapa acara pameran serta diskusi seni yang diprakarsai oleh komuitas maupun mahasiswa di Solo.


Belum genap dua bulan usia GKS, dengan segala keterbatasan sarana dan fasilitas namun telah banyak program acara yang terselenggara atas peran dan kerjasama warga masyarakat khususnya kaum muda yang peduli pada pergerakan kesenian anak muda. Rencana pemerintah yang akan merobohkan Gedung Kesenian Solo juga telah merobohkan beberapa harapan anak muda yang semula tidak pernah mendapatkan ruang untuk berproses. Memang GKS tidak memprioritaskan sebagai tempat penyelenggaraan even besar, tetapi program-program rutin seminggu sekali yang dapat berjalan secara berkesinambungan diharapkan akan dapat memberdayakan kreativitas serta potensi-potensi (calon) seniaman muda untuk bisa bersaing dengan kota lain di belantika kesenian dunia sehingga istilah gerakan kesenian anak muda yang bersifat Obor-obor blarak tidak lagi terjadi. Solo butuh Gedung Kesenian yang dapat mengakomodir kepentingan anak muda dengan segala iklim serta karakter ruang yang melekat didalamnya, sehingga Solo Kreatif, Berbudaya dan Sejahtera bukan hanya slogan. (jack)

Read More...

Dari pemutaran video pentas Mugidance: saling menginspirasi

Kamis, 15 Juli 2010
Sesuatu yang sudah biasa terjadi, mungkin tidaklah menarik atau dapat memicu inspirasi. Namun ketika kita mencoba untuk melakukan hal yang dinilai sebagian kalangan agak nyleneh, ada sesuatu yang baru disana. Itulah yang terjadi dalam acara pemutaran video pementasan tari “Surat Shinta” dan tari “Lingkar”, Jumat (9/7) pukul 7 malam di Gedung Kesenian Solo. Meskipun gedung berkapasitas sekitar 100 orang itu tidak dipenuhi penonton, namun masing-masing penonton merasakan sebuah diskusi yang hangat, bermanfaat dan saling menginspirasi.

Misalnya Deny yang sedang mengerjakan disertasi tentang film tari langsung mengkritisi bentuk video yang disajikan dalam babarasa#3 di GKS. “Menurut saya itu kurang pas kalau disebut film tari,” ungkapnya blak-blakan membuka diskusi. Menurutnya sebuah film tari itu mampu membangkitakn emosi penonton, sehingga seolah penonton adalah pelakunya sendiri. Namun dirinya kemudian faham bahwa yang diputar memang dokumentasi tari, yang sebenarnya sewajarnya jika cukup berbeda dengan film tari. Sebagai seorang yang sedang melakukan penelitian tentang film tari, dia sangat tertarik untuk dapat membuat film tari dari karya-karya Mugiyono Kasido. “Demikian juga foto yang dipamerkan, sangat kuat, satu gambar bisa mewakili seluruh sajian tari, sampai sekarang saya belum menemukan gambar sekuat foto-foto mbah Mugi, ” paparnya mengomentari sejumlah foto yang dipamerkan di loby gedung.

Berbeda lagi dengan yang diungkapkan Chrisnyar, pengajar di Jurusan Media Rekam ISI Solo. Menurut Chrisnyar, pameran poster-poster ini seolah membangkitkan kenangan lama. Chrisnyar, sendiri cukup sering terlibat dalam sejumlah produksi Mugidance pada bagian dokumentasi. Penonton yang lain lagi merasa bingung karena synopsis dalam video hanya singkat. Staf pengajar di jurusan desain grafis UNS ini mengungkapkan keinginannya agar penyajian selalu disertai dengan informasi yang cukup sehingga yang awam tentang tari lebih mudah memahaminya. Malah, kalau ada bentuk buku, akan lebih bagus, jadi penonton benar-benar sudah paham. Adapula yang menanyakan tentang bagaimana proses membuat karya, apakah konsep terlebih dulu atau bagaimana. Dan siapakah yang menjadi target penontonnya.

Sedangkan Pedhet Wijaya, yang pernah menjabat sebagai Direktur Solo Radio mengungkapkan apresiasinya atas seluruh acara, mulai pameran poster, foto hingga pemutaran video dokumentasi."Saya kira ini sangat bagus, satu event bisa mengapresiasi beberapa hal sekaligus, dan ini jarang dilakukan orang," ungkapnya disela mengamat poster di loby gedung.


Penuh symbol
“Kalau saya, justru lebih suka karya “lingkar” karena penuh dengan symbol,” ujar penonton yang lain lagi. Karya tari “Surat Shinta” memang cenderung bercerita, sedangkan “Lingkar” layaknya sebuah puisi, penuh perlambang. Dan dua karya yang berbeda ini sengaja disandingkan untuk memberi wawasan yang lebih luas. Dikatakannya, kalau melihat “Lingkar” kemudian akan bertanya-tanya, kok beras disawurkan, kok tiba-tiba ada keris yang akhirnya dihujamkan ke tubuh, kok penarinya empat orang.

Mugi kemudian menjelaskan bahwa “Lingkar” adalah karya tentang perjuangan perempuan mempertahankan eksistensinya, tentang sebuah regenerasi, dari generasi tua ke generasi berikutnya, tentang impian akan masa kejayaan perempuan. Dan tentang beras, adalah symbol-simbol , seperti halnya dalam upacara tradisi Jawa yang selalu menggunakan beras, mulai dari kelahiran, perkawinan maupun kematian.

Sementara dalam “Surat Shinta”, Mugi melakukan pengkajian ulang atas teks Ramayana karya Walmiki. Tokoh Shinta yang dalam cerita aslinya, bersedia dibakar untuk membuktikan kesuciannya, dikontekskan dengan jaman sekarang oleh Mugi. Dalam karyanya ini, Shinta memilih pergi daripada menjalani pati obong. “Jadi Surat Shinta ini karangan mbah Mugi sendiri ya,” tanya seorang penonton menandaskan.

Diskusi yang terbuka dan saling menginspirasi berlangsung selama sekitar satu setengah jam, segenggam inspirasi dibawa oleh para penonton, syukurlah. (nuri)
Read More...

Sebuah catatan kecil dari Komunitas Sentimeter

Minggu, 11 Juli 2010

Kami sebagai komonitas seni rupa yang baru kemarin sore terbentuk, sangat sadar betapa pentingnya sebuah pameran sebagai ajang interaksi antara kami dan penikmat seni, ajang unjuk karya dan tempat mencari kritik saran sebagai cambuk dalam kami berproses.

Tentang Sentimeter sendiri adalah sebuah kelompok/komunitas yang terbentuk dari siswa-siswi SMKN 9 surakarta jurusan seni rupa murni angkatan 2008 yang berawal dari kegiatan lembur mengerjakan tugas lukis atau berkarya di luar tugas sekolah di bengkel seni rupa SMSR (SMKN 9 Ska). Setelah kegiatan tersebut berjalan cukup lama dan karya teman-teman terkumpul cukup banyak, kami sepakat mengadakan pameran dan membentuk sebuah kelompok yang kami sepakati sebagai Komunitas Sentimeter dengan agenda pameran pertamanya adalah pameran PENCARIAN JATI DIRI di ruang PTT SMSR yang berlangsung pada tanggal 2 Mei 2010.

Dalam komunitas SENTIMETER tidak ada batasan-batasan tentang gaya, ukuran, corak, teknis dan media berkarya. Kami sanggat menghargai perbedaan dalam berkarya karena kapasitas, intensitas, kemampuan teknis seseorang berbeda-beda, jadi kami satu sama lain tidak dapat mempengaruhi prinsip perkarya anggota Sentimeter karena itu adalah hal yang bersifat pribadi (personal), jadi bagi kami kebebasan berkarya adalah mutlak dan tidak bisa ditawar.walaupun dengan alasan apapun, mungkin untuk saat ini karya-karya kami bisa di bilang belum pantas di anggap karya seni, kami sadar betul sebagai komunitas kemarin, kemampuan & teknis kami dalam berkarya belum maksimal, tapi bagaimanapun wujud karya kami sekarang itu adalah merupakan sebuah proses.

Pada kesempatan kali ini kami mencoba memberanikan diri untuk tampil ke publik sebagai sebuah komunitas seni yang independen dengan tujuan sederhana yaitu ingin ikut mewarnai percaturan seni rupa dan membangun iklim kesenian Solo yang bisa di bilang sepi gawe jika dibanding kota lain. Dengan tidak berniat menggurui,kami selaku generasi muda sangat prihatin dengan kondisi kesenirupaan yang tertinggal, mungkin hanya dengan karya-karya ini yang bisa kami sumbangkan untuk membuat Kota Solo jadi lebih berwarna. (Wahyu Eko Prasetyo, anggota Kelompok Sentimeter)

Read More...

MUGI DANCE sajikan tari dalam dua dimensi

Selasa, 06 Juli 2010


Sebuah pertunjukan hampir selalu tak lepas dari kegiatan dokumentasi perekaman gambar, demikian pula dengan pertunjukan tari yang diproduksi Mugi Dance. Mengusung tema perempuan, kelompok tari pimpinan Mugiyono Kasido bakal menggelar dua nomor karya tarinya dalam versi dua dimensi.

Tari yang dibabar dalam program acara Babarasa#3 di Gedung Kesenian Solo adalah “Lingkar” dan “Surat Shinta”. “Lingkar’ merupakan tari yang menggambarkan perjuangan kaum perempuan dalam mempertahankan eksistensinya sehingga mengalami masa kejayaan. Sedangkan “Surat Shinta” mengusung isu gender, dimana sajian yang bersumber dari kisah Ramayana ini menampilkan figur Shinta yang menolak menjalani pati obong sekadar untuk membuktikan kesetiaannya.

“Surat Shinta” yang diproduksi pada 2002 silam merupakan tari topeng kontemporer hasil kolaborasi Mugi Dance dengan seniman dari Thailand. “Sajian ini menarik karena penari topeng yang bagus saat ini cukup langka, sedangkan semua tokoh dalam sajian tersebut memakai topeng, termasuk figure kera”, papar Nuri Aryati, manager Mugi Dance, Rabu ( 7 /7) kemarin.

Kegiatan yang terbuka bagi masyarakat luas ini bakal dilangsungkan di Gedung Kesenian Solo (eks Solo Theater) pada Jumat (9/7) pukul 19.30 malam besok. Dalam kesempatan itu pula, bakal dilangsungkan diskusi tentang tari yang disajikan dalam format layar lebar serta pameran poster pementasan karya Mugi Dance yang berlangsung di dalam maupun luar negeri.

“Kami sengaja menghadirkan poster disini agar masyarakat bisa melihat dan membandingkan poster-poster pertunjukan di dalam dan luar Indonesia,”urainya. Karya “Lingkar” pertama kali dipentaskan dalam forum Indonesia Dance Festival pada 1993 silam dan menuai pujian dari media. Sedangkan pada 2008, bersama “Surat Shinta” dan “ Bagaspati “dipentaskan keliling beberapa negara di Eropa yaitu di Monfalcone (Italia), Zuiderpersuis (Belgia) dan Utrecht dan Amsterdam (Belanda).
Read More...

Review Klik Klinik #1


Hari Jumat tanggal 25 Juni jam 8 malam, di Gedung Kesenian Solo (GKS) diadakan pameran photografi dan diskusi fotografi dalam program Klik Klinik#1. Dalam pameran tersebut dipajang sekitar 65 karya foto dengan tema bebas. Kenapa bebas? Karena dari munculnya gagasan sampai dengan eksekusi hanya membutuhkan persiapannya 1 minggu. Dedy Timbul sebagai koordinator setiap acara fotografi di Gedung Kesenian Solo merasa salut kepada para peserta yang sebagian besar mahasiswa tersebut karena pada saat-saat ini adalah masa ujian akhir semester namun mereka masih merelakan waktunya untuk mengikuti pameran ini. Menurut Timbul, yang penting “BERANI!” Daripada foto itu dipamerkan di FB lebih baik foto itu dicetak dan dipamerkan secara 2 dimensi. “jangan pernah menyebut itu karya kalau belum dilihat orang lain dan mencoba bertanggungjawab atas karyanya sendiri.” Katanya di sela-sela diskusi.

Untuk jangka panjang, acara Klik Klinik akan diisi dengan pameran, diskusi maupun klinik fotografi dengan tema tertentu. Siapapun bisa terlibat untuk jadi pembicara, bahkan sesama pesertapun berhak untuk berbicara untuk mengapresiasi maupun mempresentasikan karyanya. Ada beberapa usulan dari peserta diskusi diantaranya dalam acara Klik Klinik yang diadakan GKS dapat mengadakan acara memotret modelnya langsung, misalnya jam 3 sore secara bersamaan memotret bareng dan malamnya dipamerkan melalui slide LCD Proyektor (tidak perlu dicetak) lalu hasil foto bisa dibahas bersama-sama. Selain itu ada usulan untuk mengundang salah satu model foto untuk menjadi narasumbernya.

Acara diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut juga diagendakan untuk program Klik Klinik#2, dalam rencananya akan diselenggarakan pameran dan klinik fotografi dengan tema Solo Batik Carnaval (SBC). Dalam event besar yang diselenggarakan tanggal 23 Juni 2010 lalu banyak hal yang dapat diambil dari sisi fotografinya, bukan hanya peserta SBC saja tetapi obyek-obyek keramaian ataupun kejadian-kejadian unik lain dalam event yang sudah digelar selama tiga tahun tersebut dapat dijadikan sebagai obyek foto.

Read More...
banner125125 banner125125 banner125125 ads_box ads_box ads_box
 

Headline 4

Followers

Download