About Free Tips

banner5656

Free Tips has many free blogger templates just for you. The collection has more than 20 templates and will be added regularly. You can choose template that suits your need and your taste. Feel free to download. You can go through this link to see the collection here.

Harry Potter Is Moving...

Babarasa#4 : Video Robber 1,5

Minggu, 15 Agustus 2010






Videorobber merupakan project video eksperimental yang digarap secara personal oleh Bambang "Ipoenk" K.M. dengan dibantu secara fisik oleh teman-teman dekat dan tercintanya. Videorobber#1 merupakan kompilasi pertamanya di tahun 2007, terdiri dari 10 video yang disajikan secara segar dan unik dengan menggunakan berbagai gaya dan cara bertutur. Selain itu Ipoenk juga akan memutar kompilasi videorobber#2 yang saat ini masih dalam proses pengerjaan setelah menghabiskan waktu selama tiga tahun terakhir.

Dalam program acara Babarasa #4, Bambang "Ipoenk" K.M yang sangat produktif membuat karya-karya video (terutama video eksperimental) akan menyajikan dan membahas 2 kompilasi videonya pada hari jumat tanggal 20 Agustus 2010 jham 15.00-17.30 WIB di Gedung Kesenian Solo.


Kompilasi videorobber#2 yang akan ditampilkan adalah :

Flying Love Letter (03'20"/2008)
Surat cinta yang ditampilkan dengan 3 media dan 3 bagian yang berbeda.

Participatory (05'34"/2009)
Kuis, Wanita dan Partisipan.

Man of The Hour (03'52"/2010)
Video: Videorobber, Musik : Zeke Khaseli

Kolase (02'39"/2007-2008)
Tidak ada yang berubah setelah pergantian tahun!

Light (03'16"/2009)
Perjalanan panjang untuk menangkap cahaya

Soul Horizon (03'16"/2008)
Memerlukan dua sisi untuk menyempurnakan kesenimbangan.

Breathing by Obscurity (02'46"/2008)
Sebuah Video Musik dari band metal Hands Upon Salvation


Info :
Videorobber
Video_robber@yahoo.com
08176049460 (Ipoenk)
Jl. Ngasem 38 Yogyakarta 55132

Gedung Kesenian Solo
Jl. Slamet Riyadi 275 Sriwedari Solo
email :gedungkeseniansolo@yahoo.
co.id
Read More...

Gagasunema#2 : At The Very Bottom of Everything

Selasa, 10 Agustus 2010
At The Very Bottom of Everything (Di Dasar Segalanya) adalah film kedua yang disutradarai oleh Paul Agusta setelah film The Anniversary Gift (Kado Hari Jadi) yang diproduksi pada tahun 2008. Pemutaran perdana film At The Very Bottom of Everything dilaksanakan di Rotterdam International Film Festival 2010 dan dilanjutkan pemutaran keliling setidaknya di 10 kota Indonesia yang telah dimulai pada bulan Maret 2010.

Paul Agusta terken...al dengan pandangan provokatif—bahkan radikal, di setiap filmnya. Lagi-lagi, Ia melanjutkan eksplorasi eksperimentalnya dengan mendobrak paradigma tradisional yang telah berakar dalam perfilman Indonesia. Film ini menggali ‘lahan’ baru yang belum sempat dieksplorasi dalam film Indonesia lainnya, menampilkan adanya percampuran live action dan animasi stop motion diperkaya dengan gaya narasi yang unik, pendekatan eksperimental terhadap scoring film, dibarengi oleh tata rias spesial karya Didin Syamsudin (yang dengan ‘tangan ajaibnya’ mampu menciptakan kostum tikus yang rumit). Film ini dibintangi Kartika Jahja dan T. Rifnu Wikana yang bahkan sudah terpilih sebelum naskah itu ditulis pada pertengahan tahun 2008.

Film yang berdurasi 83 menit ini menceritakan kisah pedih perjuangan wanita muda melawan Bipolar Disorder (juga dikenal sebagai Manic Depression). Dengan mempertimbangkan bahwa gangguan Bipolar memangkas sekitar 9,2 tahun dari perkiraan umur hidup seseorang, dan bahwa sebanyak satu dari lima pasien dengan kelainan genetik ini berhasil bunuh diri, jumlah besar orang yang sudah didiagnosis (gangguan bipolar) di Indonesia jelas memerlukan perhatian khusus.

Film At The Very Bottom of Everything (Di Dasar Segalanya) akan hadir di Solo bersama beberapa Tim Produksinya. Dalam program acara gagaSinema #2, Paul Agusta yang pernah dikenal sebagai seorang kritikus film dan musik, kurator film serta terlibat dalam berbagai festival ini akan mengajak kita untuk ngobrol bareng tentang filmnya di Gedung Kesenian Solo pada hari jumat 13 Agustus 2010 pukul 14.00 WIB - selesai.

Mari bergabung.
Read More...

Perempuan Bikin Rumah

Senin, 02 Agustus 2010

Permasalahan jenis kelamin yang merepresentasikan perbedaan wujud manusia secara harafiah, fisik, dan kodrati untuk saat ini masih sering disamaartikan dengan isu gender dimana permasalahan gender merupakan permasalahan peran kedua jenis kelamin dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Meski sudah bukan waktunya lagi membedakan kedudukan laki laki dan perempuan, namun tradisi patriarkhik yang cenderung menganggap laki-laki lebih ”kuat” daripada perempuan ternyata masih menjadi polemik yang mengharuskan untuk kembali menilik tentang permasalahan gender, karena pada prakteknya masih banyak terjadi peminggiran hak kaum perempuan dalam sepak terjangnya di segala aspek kehidupan.

Tidak sedikit kaum perempuan yang memiliki peran penting di dunia kreatif akhir-akhir ini. Dengan beragamnya bahasa dan cara menyampaikan pesan, banyak perempuan muncul dengan berani menuangkan pemikiran-pemikiran kritis dalam menyuarakan realitas yang terjadi di masyarakat melalui sudut pandang dan perannya dalam kehidupan di masyarakat. Lewat acara ”PEREMPUAN BIKIN RUMAH”, para kreator perempuan mengajak kita terjun ke dalam dunia imajinasi yang tak terbatas dalam sebuah gelaran karya-karya seni populer seperti film, desain, fotografi, musik dan sastra karya perempuan

JADWAL ACARA

Sabtu, 7 Agustus 2010

19.00 - 20.00 WIB

Pembukaan acara Perempuan Bikin Rumah

20.00 - 20.30 WIB

Pemutaran Film

"Purnama di Pesisir"

Fiksi/16'44"/Chairun Nissa/FFTV IKJ/2009

Sinopsis :

Bagi orang lain, bulan purnama adalah simbol kesempurnaan. Tapi masyarakat pesisir mengisahkan cerita yang berbeda untuk bulan purnama, masyarakat pesisir harus berjuang untuk hidup mereka ketika banjir pasang datang, disebabkan bulan purnama. lalu Nirma, seorang gadis pantai muda, harus berjuang untuk melindungi rumahnya di pantai dari orang-orang di sekitarnya yang ingin pindah rumah agar di buatkan tanggul.Tapi Nirma harus melakukan ini sendiri, karena orang lain tidak perduli dengan kondisinya, dan rahasia yang ada di dalam rumah

  • Nomination Film Pendek Festival Film Indonesia 2009
  • Special Jurry Mention Roma Independent Film Festival 9th
  • Selection Official Rotterdam Film Festival International 39th
  • 3 cities film festival 3rd
  • V international film Festival 2nd (womanfilm festival,Jakarta, Indonesia)
  • Official selection Indonesian film festival 5th (Melbourne & sidney)
  • Official selection Purbalingga film festival 4th
  • Official selection South to South film festival 3rd
  • Opening Jember FIlm Fetival 2nd

20.30 - 22.00 WIB

Diskusi Film bersama Chairun Nissa dan Tim Produksi Film Purnama di Pesisir

Minggu, 8 Agustus 2010

09.00 - 12.00 WIB

Hunting Foto dan Sketsa Bersama ke Pabrik Gula Tasik Madu Karanganyar

13.00 - 14.00 WIB

Diskusi Fotografi jurnalistik bersama Solopos

14.00 - 15.00 WIB

Pemutaran Film Kompilasi Short and Young V-Film Festival

Short and Young menampilkan beberapa film yang menonjol karya remaja perempuan dari Festival Film Purbalingga, Think Act Change The Body Shop Documentary Film Competition serta video diary yang difasilitasi oleh Kampung Halaman, yaitu program Dengar, Kami Bicara dan Jalan Remaja 1208. Keenam film pendek ini berhasil menyuarakan berbagai persoalan khas perempuan muda dan menyampaikannya melalui gaya khas anak muda.

Dear Girl

Video Diary/Yanyan, Alma, Rina, Nunu, Husni, Jeni, Ivan, Panji, Maya/ 2’/SOCA/Tasikmalaya/2009

Sinopsis : lebih cantik, lebih sehat, menjadi terkneal dan masuk TV, apakah itu memang keinginan mu hei remaja??

Dunia Bisa GuePegang,

Video Diary/Nopi, Preti, Susan, Efri, Intan, Vinty, Rio, Kurnia, D’Acil / 2’52’’/Jakarta/Video Diary/2009.

Sinopsis : Remaja perempuan membutuhkan restu orang tuanya dalam kesehariannya.

Baju Untuk Kakek.

Fiksi/Misyatun/14’59’’/Sawah Arta Film/Purbalingga/2009

Sinopsis: Perjuangan seorang cucu untuk mendapatkan baju baru buat kakeknya.

Na..na…

Video Diary/Sutradara : Diana, Maria,Risa,Dewi /3’37’’/SMP Bhinneka Tunggal Ika Jogyakarta/2006.

Sinopsis: siswa perempuan yang sulit mendapatkan sebuah benda yang menjadi kebutuhan Mereka setiap bulannya. Mereka menginginkan ada kopersai yang menyediakan benda ini, Biasanya benda ini mereka sebut na..na…na… karena alasan kesopanan.

Bumi Masih Berputar.

Fiksi/Sheila Ardila/13'55’’/Brownie Film/SMA Negeri 2 Purwokerto/2009

Sinopsis: cerita ini menggambarkan segala cara yang di lakukan demi mendapatkan pujaan hati. Ketika cinta pergi, semangat akan terus ada karena bumi masih berputar.

- Film Terbaik II Purbalingga Film Festival 2009

Love Than Leave

Dokumenter/Anastasya Praditha/15'32''/Gabungan SMA Jakarta/2009

sinospsi: di dorong pengalaman pribadi sebagai anak yang kerap menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga mulai dari nenek,tante,ibunya sendiri.ketty berupaya menulusuri mengapa kekeran kerap di lakukan terhadap perempuan.

Best Film, Best Music Score & Best Film Women Against Violence theme kategori Pelajar SMA, Think Act Change Body Shop Documentary Film Festival 2009

15.00 – 17.30 WIB

Pemutaran Kompilasi Film Perempuan (Solo)

Judul : Magenta
Durasi 00.24.59
Sutradara ; Dwi Putri Nw

Perjuangan seorang gadis desa yang mengadu nasib di kota. Kehidupan yang cukup keras memaksa pratiwi untuk bertahan hidup dengan pilihannya. Pratiwi tidak pernah menyesali atas pilihannya karena semuah itu adalah proses perjalanan hidupnya

19.00 – 20.00 WIB

Pemutaran Video Eksperimental Bu(d)aya Virtual

20.00 – 22.00 WIB

Diskusi Seni Rupa dan Karya Perempuan

Senin 9 Agustus 2010

13.00 – 14.30 WIB

Jangan Bilang Aku Gila

Dokumenter/Kiki Febriyanti/In-Docs/19 menit/2008

Suharto dan Rufiana adalah mantan penderita gangguan jiwa yang sembuh setelah menjalani terapi di pesantren Al-Ghafur, Bondowoso. Rufiana kini telah menikah dan dikaruniai seorang anak, sedangkan Suharto tetap tinggal di pesantren. Baik Rufiana maupun Suharto berusaha untuk dapat kembali ke keluarga dan masyarakat. Bisakah masyarakat menerima keberadaan mereka? Maukah keluarganya menerima keadaan mereka?

Perempuan: Kisah Dalam Guntingan

Dokumenter/Ucu Agustin/54menit/2007

Awalnya cerita di balik layar ini dibuat sebagai materi publikasi film "Perempuan Punya Cerita". "Perempuan Punya Cerita" adalah sebuah project unik, dimana kisah-kisah perempuan Indonesia menjadi inspirasi dalam 4 film yang digabung menjadi satu.

Meskipun demikian, perjalanan dalam merekam kisah di balik layar pembuatan film ini sampai pada titik dimana kisah-kisah tersebut dihadapi semakin banyak masalah, khususnya dari Lembaga Sensor Indonesia. Dalam kisah di balik layar ini, Nia Dinata, produser dan sutradara dari salah satu cerita gabungan ini, membuat sebuah dokumenter ayng tadinya hanya merupakan potongan-potongan gambar menjadi sebuah dokumenter yang merefleksikan nasib "Perempuan Punya Cerita", sebuah karya para wanita dan nasib perempuan Indonesia yang termarjinalkan. (dlm konfirmasi)

14.30 – 15.30 WIB

Diskusi film bersama Pita Amurwa Bumi

Tema : Membaca [pen] tubuh [an] perempuan dalam film

15.30 – 17.30 WIB

Pesta puisi perempuan

19.00 – 22.00 WIB

Diskusi sastra dan Perempuan

Narasumber : Indah Darmastuti, Sany B Kuncoro dan Kirana Kejora

Penutupan Acara

Read More...

Gedung Kesenian Solo, harapan yang terancam

Rabu, 21 Juli 2010

Kesenian di Solo berkembang sangat dinamis, beragam bentuk dan hasil karya seni yang digawangi oleh kaum muda telah ikut berperanserta dalam memperkaya dan meningkatkan citra Solo sebagai kota seni dan budaya. Untuk saat ini, khusunya pegiat maupun komunitas seni visual seperti halnya lukis, patung, film, fotografi, grafiti, desain dan kelompok kreatif lainnya telah lama mengalami pasang surut. Pada umumnya kelompok-kelompok seni ini masih berjalan secara bergerilya dengan segala keterbatasannya, baik dari segi jaringan, pendanaan, akses maupun ruang untuk mereka berkumpul dan bersosialisasi melalui karyanya. Banyak kegiatan yang diprakarsai oleh komunitas yang secara berlahan menghilang atau bahkan berhenti karena tidak adanya kerangka kerja yang subtainable serta dukungan inisiatif yang sama dari pihak lain. Hal ini sangat berbeda dengan bidang seni pertunjukan yang sudah menjadi ikon Solo dengan segala event spektakuler yang menghias Kota Bengawan.


Masih banyak bidang-bidang seni dan budaya yang masih terpinggirkan dan seolah keberadaanya hanya menjadi pelengkap. Tak hanya seni visual, beberapa kelompok seni musik, tari dan budaya anak muda seolah masih menjadi “masalah” bagi beberapa kalangan di Solo, meski diakui ataupun tidak, kelompok-kelompok seni ini keberadaanya memang ada di Kota Solo dan telah berhasil membawa nama baik sampai tingkat Internasional. Dari ketimpangan yang terjadi itulah kemudian Gedung Kesenian Solo (GKS) yang berdiri di bekas gedung Solo Theater Sriwedari mencoba menangkap dan merespon atas munculnya kegiatan-kegiatan kreatif dan dinamika anak muda di Solo.


Keberagaman kegiatan kesenian anak muda merupakan sebuah aset terpendam, untuk itulah GKS diharapkan bisa menjadi ruang untuk berproses dan berkembang secara bersama-sama dalam segala kegiatan khususnya seni berbasis anak muda di Solo. Dalam konsepnya GKS tidak hanya menjadi tempat fisik untuk memajang atau menilai baik-buruknya sebuah karya, namun juga dapat digunakan sebagai ruang sirkulasi antar kreator muda untuk saling berjejaring dengan lintas disiplin ilmu yang berbeda. Program-program yang bermuatan edukasi seperti klinik, workshop, diskusi dan pelatihan seni yang diadakan secara reguler diharapkan akan menjadi tempat belajar alternatif kesenian di Solo, selain itu dengan dibentuknya Pool of Knowledge dalam konteks seni dan budaya anak muda, GKS akan dapat menyediakan sumber-suber informasi dalam bentuk teks, gambar maupun video yang dapat diakses seluas-luasnya oleh publik.


Sebuah tindakan awal untuk merealisasikan semua gagasan tersebut terjadi ketika masih dalam nuansa Hari Pendidikan Nasional, pada tanggal 7 Mei 2010 lalu GKS menyatakan berdiri dengan menyelenggarakan event perdana babaRasa yang merupakan program rutin pameran dan bedah karya seni. Program-program reguler lain yang sudah diselenggarakan secara rutin sebulan sekali adalah program geraKomunitas yang berisi diskusi dan ngobrol bareng komunitas seni di Solo, Klik Klinik yang merupakan program pameran dan klinik fotografi serta program gagaSinema yang merupakan acara pemutaran dan diskusi film dengan filmakernya. Selain program-program reguler, GKS juga telah menjadi tempat penyelenggaraan beberapa acara yang bersifat eventual, seperti Jakarta International Film Festival 2010, sebagai venue II acara Kongres Nasional Kegiatan Perfilman Berbasis Komunitas 2010, Bancakan Seni Segara Gunung dan beberapa acara pameran serta diskusi seni yang diprakarsai oleh komuitas maupun mahasiswa di Solo.


Belum genap dua bulan usia GKS, dengan segala keterbatasan sarana dan fasilitas namun telah banyak program acara yang terselenggara atas peran dan kerjasama warga masyarakat khususnya kaum muda yang peduli pada pergerakan kesenian anak muda. Rencana pemerintah yang akan merobohkan Gedung Kesenian Solo juga telah merobohkan beberapa harapan anak muda yang semula tidak pernah mendapatkan ruang untuk berproses. Memang GKS tidak memprioritaskan sebagai tempat penyelenggaraan even besar, tetapi program-program rutin seminggu sekali yang dapat berjalan secara berkesinambungan diharapkan akan dapat memberdayakan kreativitas serta potensi-potensi (calon) seniaman muda untuk bisa bersaing dengan kota lain di belantika kesenian dunia sehingga istilah gerakan kesenian anak muda yang bersifat Obor-obor blarak tidak lagi terjadi. Solo butuh Gedung Kesenian yang dapat mengakomodir kepentingan anak muda dengan segala iklim serta karakter ruang yang melekat didalamnya, sehingga Solo Kreatif, Berbudaya dan Sejahtera bukan hanya slogan. (jack)

Read More...

Dari pemutaran video pentas Mugidance: saling menginspirasi

Kamis, 15 Juli 2010
Sesuatu yang sudah biasa terjadi, mungkin tidaklah menarik atau dapat memicu inspirasi. Namun ketika kita mencoba untuk melakukan hal yang dinilai sebagian kalangan agak nyleneh, ada sesuatu yang baru disana. Itulah yang terjadi dalam acara pemutaran video pementasan tari “Surat Shinta” dan tari “Lingkar”, Jumat (9/7) pukul 7 malam di Gedung Kesenian Solo. Meskipun gedung berkapasitas sekitar 100 orang itu tidak dipenuhi penonton, namun masing-masing penonton merasakan sebuah diskusi yang hangat, bermanfaat dan saling menginspirasi.

Misalnya Deny yang sedang mengerjakan disertasi tentang film tari langsung mengkritisi bentuk video yang disajikan dalam babarasa#3 di GKS. “Menurut saya itu kurang pas kalau disebut film tari,” ungkapnya blak-blakan membuka diskusi. Menurutnya sebuah film tari itu mampu membangkitakn emosi penonton, sehingga seolah penonton adalah pelakunya sendiri. Namun dirinya kemudian faham bahwa yang diputar memang dokumentasi tari, yang sebenarnya sewajarnya jika cukup berbeda dengan film tari. Sebagai seorang yang sedang melakukan penelitian tentang film tari, dia sangat tertarik untuk dapat membuat film tari dari karya-karya Mugiyono Kasido. “Demikian juga foto yang dipamerkan, sangat kuat, satu gambar bisa mewakili seluruh sajian tari, sampai sekarang saya belum menemukan gambar sekuat foto-foto mbah Mugi, ” paparnya mengomentari sejumlah foto yang dipamerkan di loby gedung.

Berbeda lagi dengan yang diungkapkan Chrisnyar, pengajar di Jurusan Media Rekam ISI Solo. Menurut Chrisnyar, pameran poster-poster ini seolah membangkitkan kenangan lama. Chrisnyar, sendiri cukup sering terlibat dalam sejumlah produksi Mugidance pada bagian dokumentasi. Penonton yang lain lagi merasa bingung karena synopsis dalam video hanya singkat. Staf pengajar di jurusan desain grafis UNS ini mengungkapkan keinginannya agar penyajian selalu disertai dengan informasi yang cukup sehingga yang awam tentang tari lebih mudah memahaminya. Malah, kalau ada bentuk buku, akan lebih bagus, jadi penonton benar-benar sudah paham. Adapula yang menanyakan tentang bagaimana proses membuat karya, apakah konsep terlebih dulu atau bagaimana. Dan siapakah yang menjadi target penontonnya.

Sedangkan Pedhet Wijaya, yang pernah menjabat sebagai Direktur Solo Radio mengungkapkan apresiasinya atas seluruh acara, mulai pameran poster, foto hingga pemutaran video dokumentasi."Saya kira ini sangat bagus, satu event bisa mengapresiasi beberapa hal sekaligus, dan ini jarang dilakukan orang," ungkapnya disela mengamat poster di loby gedung.


Penuh symbol
“Kalau saya, justru lebih suka karya “lingkar” karena penuh dengan symbol,” ujar penonton yang lain lagi. Karya tari “Surat Shinta” memang cenderung bercerita, sedangkan “Lingkar” layaknya sebuah puisi, penuh perlambang. Dan dua karya yang berbeda ini sengaja disandingkan untuk memberi wawasan yang lebih luas. Dikatakannya, kalau melihat “Lingkar” kemudian akan bertanya-tanya, kok beras disawurkan, kok tiba-tiba ada keris yang akhirnya dihujamkan ke tubuh, kok penarinya empat orang.

Mugi kemudian menjelaskan bahwa “Lingkar” adalah karya tentang perjuangan perempuan mempertahankan eksistensinya, tentang sebuah regenerasi, dari generasi tua ke generasi berikutnya, tentang impian akan masa kejayaan perempuan. Dan tentang beras, adalah symbol-simbol , seperti halnya dalam upacara tradisi Jawa yang selalu menggunakan beras, mulai dari kelahiran, perkawinan maupun kematian.

Sementara dalam “Surat Shinta”, Mugi melakukan pengkajian ulang atas teks Ramayana karya Walmiki. Tokoh Shinta yang dalam cerita aslinya, bersedia dibakar untuk membuktikan kesuciannya, dikontekskan dengan jaman sekarang oleh Mugi. Dalam karyanya ini, Shinta memilih pergi daripada menjalani pati obong. “Jadi Surat Shinta ini karangan mbah Mugi sendiri ya,” tanya seorang penonton menandaskan.

Diskusi yang terbuka dan saling menginspirasi berlangsung selama sekitar satu setengah jam, segenggam inspirasi dibawa oleh para penonton, syukurlah. (nuri)
Read More...

Sebuah catatan kecil dari Komunitas Sentimeter

Minggu, 11 Juli 2010

Kami sebagai komonitas seni rupa yang baru kemarin sore terbentuk, sangat sadar betapa pentingnya sebuah pameran sebagai ajang interaksi antara kami dan penikmat seni, ajang unjuk karya dan tempat mencari kritik saran sebagai cambuk dalam kami berproses.

Tentang Sentimeter sendiri adalah sebuah kelompok/komunitas yang terbentuk dari siswa-siswi SMKN 9 surakarta jurusan seni rupa murni angkatan 2008 yang berawal dari kegiatan lembur mengerjakan tugas lukis atau berkarya di luar tugas sekolah di bengkel seni rupa SMSR (SMKN 9 Ska). Setelah kegiatan tersebut berjalan cukup lama dan karya teman-teman terkumpul cukup banyak, kami sepakat mengadakan pameran dan membentuk sebuah kelompok yang kami sepakati sebagai Komunitas Sentimeter dengan agenda pameran pertamanya adalah pameran PENCARIAN JATI DIRI di ruang PTT SMSR yang berlangsung pada tanggal 2 Mei 2010.

Dalam komunitas SENTIMETER tidak ada batasan-batasan tentang gaya, ukuran, corak, teknis dan media berkarya. Kami sanggat menghargai perbedaan dalam berkarya karena kapasitas, intensitas, kemampuan teknis seseorang berbeda-beda, jadi kami satu sama lain tidak dapat mempengaruhi prinsip perkarya anggota Sentimeter karena itu adalah hal yang bersifat pribadi (personal), jadi bagi kami kebebasan berkarya adalah mutlak dan tidak bisa ditawar.walaupun dengan alasan apapun, mungkin untuk saat ini karya-karya kami bisa di bilang belum pantas di anggap karya seni, kami sadar betul sebagai komunitas kemarin, kemampuan & teknis kami dalam berkarya belum maksimal, tapi bagaimanapun wujud karya kami sekarang itu adalah merupakan sebuah proses.

Pada kesempatan kali ini kami mencoba memberanikan diri untuk tampil ke publik sebagai sebuah komunitas seni yang independen dengan tujuan sederhana yaitu ingin ikut mewarnai percaturan seni rupa dan membangun iklim kesenian Solo yang bisa di bilang sepi gawe jika dibanding kota lain. Dengan tidak berniat menggurui,kami selaku generasi muda sangat prihatin dengan kondisi kesenirupaan yang tertinggal, mungkin hanya dengan karya-karya ini yang bisa kami sumbangkan untuk membuat Kota Solo jadi lebih berwarna. (Wahyu Eko Prasetyo, anggota Kelompok Sentimeter)

Read More...

MUGI DANCE sajikan tari dalam dua dimensi

Selasa, 06 Juli 2010


Sebuah pertunjukan hampir selalu tak lepas dari kegiatan dokumentasi perekaman gambar, demikian pula dengan pertunjukan tari yang diproduksi Mugi Dance. Mengusung tema perempuan, kelompok tari pimpinan Mugiyono Kasido bakal menggelar dua nomor karya tarinya dalam versi dua dimensi.

Tari yang dibabar dalam program acara Babarasa#3 di Gedung Kesenian Solo adalah “Lingkar” dan “Surat Shinta”. “Lingkar’ merupakan tari yang menggambarkan perjuangan kaum perempuan dalam mempertahankan eksistensinya sehingga mengalami masa kejayaan. Sedangkan “Surat Shinta” mengusung isu gender, dimana sajian yang bersumber dari kisah Ramayana ini menampilkan figur Shinta yang menolak menjalani pati obong sekadar untuk membuktikan kesetiaannya.

“Surat Shinta” yang diproduksi pada 2002 silam merupakan tari topeng kontemporer hasil kolaborasi Mugi Dance dengan seniman dari Thailand. “Sajian ini menarik karena penari topeng yang bagus saat ini cukup langka, sedangkan semua tokoh dalam sajian tersebut memakai topeng, termasuk figure kera”, papar Nuri Aryati, manager Mugi Dance, Rabu ( 7 /7) kemarin.

Kegiatan yang terbuka bagi masyarakat luas ini bakal dilangsungkan di Gedung Kesenian Solo (eks Solo Theater) pada Jumat (9/7) pukul 19.30 malam besok. Dalam kesempatan itu pula, bakal dilangsungkan diskusi tentang tari yang disajikan dalam format layar lebar serta pameran poster pementasan karya Mugi Dance yang berlangsung di dalam maupun luar negeri.

“Kami sengaja menghadirkan poster disini agar masyarakat bisa melihat dan membandingkan poster-poster pertunjukan di dalam dan luar Indonesia,”urainya. Karya “Lingkar” pertama kali dipentaskan dalam forum Indonesia Dance Festival pada 1993 silam dan menuai pujian dari media. Sedangkan pada 2008, bersama “Surat Shinta” dan “ Bagaspati “dipentaskan keliling beberapa negara di Eropa yaitu di Monfalcone (Italia), Zuiderpersuis (Belgia) dan Utrecht dan Amsterdam (Belanda).
Read More...

Review Klik Klinik #1


Hari Jumat tanggal 25 Juni jam 8 malam, di Gedung Kesenian Solo (GKS) diadakan pameran photografi dan diskusi fotografi dalam program Klik Klinik#1. Dalam pameran tersebut dipajang sekitar 65 karya foto dengan tema bebas. Kenapa bebas? Karena dari munculnya gagasan sampai dengan eksekusi hanya membutuhkan persiapannya 1 minggu. Dedy Timbul sebagai koordinator setiap acara fotografi di Gedung Kesenian Solo merasa salut kepada para peserta yang sebagian besar mahasiswa tersebut karena pada saat-saat ini adalah masa ujian akhir semester namun mereka masih merelakan waktunya untuk mengikuti pameran ini. Menurut Timbul, yang penting “BERANI!” Daripada foto itu dipamerkan di FB lebih baik foto itu dicetak dan dipamerkan secara 2 dimensi. “jangan pernah menyebut itu karya kalau belum dilihat orang lain dan mencoba bertanggungjawab atas karyanya sendiri.” Katanya di sela-sela diskusi.

Untuk jangka panjang, acara Klik Klinik akan diisi dengan pameran, diskusi maupun klinik fotografi dengan tema tertentu. Siapapun bisa terlibat untuk jadi pembicara, bahkan sesama pesertapun berhak untuk berbicara untuk mengapresiasi maupun mempresentasikan karyanya. Ada beberapa usulan dari peserta diskusi diantaranya dalam acara Klik Klinik yang diadakan GKS dapat mengadakan acara memotret modelnya langsung, misalnya jam 3 sore secara bersamaan memotret bareng dan malamnya dipamerkan melalui slide LCD Proyektor (tidak perlu dicetak) lalu hasil foto bisa dibahas bersama-sama. Selain itu ada usulan untuk mengundang salah satu model foto untuk menjadi narasumbernya.

Acara diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut juga diagendakan untuk program Klik Klinik#2, dalam rencananya akan diselenggarakan pameran dan klinik fotografi dengan tema Solo Batik Carnaval (SBC). Dalam event besar yang diselenggarakan tanggal 23 Juni 2010 lalu banyak hal yang dapat diambil dari sisi fotografinya, bukan hanya peserta SBC saja tetapi obyek-obyek keramaian ataupun kejadian-kejadian unik lain dalam event yang sudah digelar selama tiga tahun tersebut dapat dijadikan sebagai obyek foto.

Read More...

Pemutaran dan Diskusi Kompilasi Film Limaenam Films

Kamis, 24 Juni 2010

Sirkudaya Solo bekerjasama dengan limaenam films Yogyakarta menyelenggarakan pemutaran dan diskusi kompilasi film dari Limaenam Films. Dalam acara ini akan diputar 10 film yang dilanjutkan dengan ngobrol bareng Dua Sutradara muda yaitu Yosep Anggi Noen dan Ditta Aprilia.
Limaenam Films pada awalnya terbentuk dari beberapa murid SMUN 3 Jogja, berkarya film sejak tahun 2000 baik fiksi maupun dokumenter. sampai sekarang sudah puluhan karya terlahir hingga lolos ke berbagai ajang festival film, karya-karya terbaik dari Limaenam film akan diputar dan diobrolkan dengan Sutradaranya di Gedung Kesenian Solo

Film2 yang diputar pada hari Sabtu tanggal 26 Juni 2010 diantaranya :

Jam 15.30 - 17.30 WIB
Walang weling wulang
[Yosep Anggi Noen/Fiksi/16 menit]
Suluh Pamuji dihukum oleh guru agamanya untuk menghafal surat al-Qafirun. Pak guru meminta azizah untuk membantunya. Namun Azizah menolak. Suluh di bantu dammar, sahabatnya, berupaya membujuk Azizah agar mau mengajarinya menghafal surat Al-kafirun. Demi membujuk Azizah, suluh dan Damar rela membantu azizah mencari belalang untuk dijual.

Lastri
[BW Purbanegara /Fiksi/15 menit]
Saat aku mencuri bibirmu, ternyata bibirku telah kaucuri. Apapun yang kita bicarakan, kau selalu berada di seberang yang lain.

Namaku Srikandi
[BW Purbanegara/Fiksi/17 menit]
Lewat pemikiran seorang Srikandi (12 Tahun) tercetus bagaimana seharusnya praktek kesetaraan gender itu. Lewat cerita bergambar yang dibuatnya untuk lomba cergam anak-anak, Srikandi menggugat ketimpangan peran perempuan dan laki-laki yang dialaminya. Film ini merupakan bagian dari kurikulum pembelajaran kesetaraan gender.

Aku Lebih Dulu Merdeka
[BW Purbanegara/Fiksi/32 menit]
Para pejuang masa kemerdekaan Indonesia, dengan berbekal keberanian dan bersenjatakan bamboo runcing memperjuangkan haknya, kemerdekaan atas negaranya sendiri. Lebih baik mati daripada mengakui kedaulatan Belanda.

The Waiting
[Yosep Anggi noen/ 16 menit]
Menunggu adalah hal paling membosankan. Sepertinya semua orang setuju dengan hal ini. Bosan dan lelah. Suratinah menunggu pacarnya untuk mengantar dia pergi ke kota.

Jam 19.00 - 20.30 WIB:
Cheng-cheng Po
[BW Purbanegara/Fiksi/ 18 menit]
Ada sebuah keindahan pernedaan yang dimaknai dengan sangat nyaman oleh sekelompok anak. Berawal dari niat untuk membantu Han membayar uang sekolah, tohir, tiara, dan Markus secara tidak sadar menerjemahkan perbedaan dengan bahasa yang sangat naïf tapi jujur. film ini dibuat sebagai bagian dari kurikulum pendidikan multikultur bagi anak-anak.

Ketemu Bapak
[Yosep Anggi Noen /Fiksi/ 17 menit]
Film ini bercerita tentang pertemuan seorang anak dengan bapaknya di penjara. Si anak yang polos menganggap bahwa itu adalah pertemuan biasa antara ia dan bapaknya yang tinggal di kota.

Musafir
[BW Purbanegara/ Dokumenter/ 16 menit]
Tidak memiliki rumah dan hidup dari botol dan plastic. Kira-kira begitulah kehidupan Musafir yang selalu ada di kota-kota besar.

Kita Tidak benar-Benar Bicara
[Ditta Aprilia/Fiksi/10 menit]
Kepenatan. itulah yang dirasakan Sarah selama menjalani hubungan dengan Bayu. Ia butuh bicara, ia butuh memperbaiki semua hal dalam hubungannya. Melalui obrolan di suatu siang, Sarah mencoba mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Bayu.

It`s Not Raining Outside
[Yosep Anggi Noen/Fiksi/16 Menit]
Perselingkuhan yang canggung. Kira-kira begitulah hubungan yang digambarkan dalam film ini. Ning dan Mur adalah pegawai sebuah toko mebel. Dalam perjalanannya mengantar mebel pesanan, mereka memulai perselingkuhan yang canggung di sebuah hotel melati.

Jam 20.30 - 22.00 WIB:
Ngobrol Bareng dengan Limaenam Films : Yosep Anggi Noen (sutradara) dan Ditta Aprilia (sutradara)

Read More...

Review geraKomunitas #1 : Ancaman dan Harapan dunia Komik Solo

Selasa, 22 Juni 2010

Solo dianggap memiliki potensi besar di bidang seni Komik, itulah yang diungkapkan mujiono dari KOMISI (Komunitas Komik ISI) dalam acara geraKomunitas #1 di Gedung Kesenian Solo pada hari jumat 14 Mei 2010. Menurutnya banyak komunitas komik yang ada di Solo seperti Bengkel Qomik, Ontong Abung, Studio Sempit, Studio Tawon dan lain sebagainya, belum lagi komunitas-komunitas komik yang setiap saat muncul dan kemudian tenggelam.


Komunitas Komik ISI (KOMISI) sendiri Berangkat dari obrolan-obrolan kecil yang dilanjutkan dengan gerakan mengumpulkan teman-teman mahasiswa yang tertarik terhadap komik, terbentuk pada tanggal 21 November 2008 di kantin Kampus Institut Seni Indonesia Surakarta Jl Ki Hajar Dewantara No.19 Solo dengan harapan awal untuk bisa menjadi sebuah wadah kecil bagi teman-teman mahasiswa untuk merespon segala fenomena yang berkembang di masyakat dan juga menampung hasrat menggambar para anggota. Adapun tujuan dibentuknya KOMISI adalah untuk meramaikan dan memberi sumbangsih terhadap pergerakan komik terutama di kota Solo.


Komunitas Komik di Solo perlu mendapat dorongan agar bisa terus berkembang. Beberapa gerakan yang bisa dilakukan untuk untuk bisa mengembangkan komunitas komik di Solo yaitu dengan cara mengembangkan jaringan komunitas di tingkat lokal, nasional bahkan Internasional sehingga terwujud kebersamaan untuk menciptakan iklim seni komik yang maju. Untuk saat ini pergerakan komunitas komik di Solo masih dianggap musiman. Maka dari itu, penguatan jaringan antar komunitas maupun lintas komunitas sanagat dibutuhkan. Selain itu hal sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan event reguler yang konsisten di area Kota Solo, mengeluarkan karya kompilasi hingga membuat merchandise sebagai media promosi komik solo.

Read More...

Review Babarasa #1 : Wiryono dan Perjalanan Karyanya

Minggu, 23 Mei 2010

Program bedah karya seni rupa dilanjutkan dengan pemutaran film telah diselenggarakan oleh SIRKUDAYA dalam program Babarasa di Gedung Kesenian Solo Sriwedari pada hari jumat tanggal 7 Mei 2010 Jam 14.00 WIB. Dalam acara tersebut juga dipamerkan lima karya lukisan di galeri seni rupa dan satu karya lukisan studio untuk dipresentasikan oleh senimannya. Acara yang dihadiri oleh sekitar 60 orang ini dibuka oleh Yayok Aryoseno sebagai moderator acara bedah karya dengan didampingi Wiryono sebagai nara sumber.

Sebelum melakukan bedah karya, Yayok Aryoseno menceritakan tentang Program Babarasa#1 yang dijadikan sebagai sebuah langkah awal dalam rangka memberdayakan gedung bekas Solo Theater sebagai Gedung Kesenian Solo (GKS). Menurutnya, Setelah mendapatkan ijin dari Pemerintah Kota khususnya Dinas Pariwisata Kodya Surakarta, gedung bioskop yang semula mangkrak selama lebih dari 10 tahun kini dihidupkan kembali agar dapat berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat Solo. Dengan program-program yang telah direncanakan diharapkan kedepannya akan menjadi tempat sirkulasi kesenian untuk anak muda di Solo.

Setelah kata pengantar disampaikan kemudian dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi karya oleh Wiryono. Dimulai dari cerita masa kecil Wiryono yang sudah mempunyai hobi menggambar, pelukis dari Kampung Batik Laweyan ini juga menceritakan proses berkeseniannya hingga kemudian kuliah Seni rupa di STSRI Yogyakarta yang saat ini menjadi Institut Kesenian Yogyakarta. Meski tidak sampai tamat kuliahnya karena kesibukan, Wiryono tetap konsisten sehingga mampu bertahan dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan karyanya hingga saat ini.

Wiryono mempresentasikan satu karya lukisan yang masih dalam proses pengerjaan. Lukisan yang diberi judul Memori dalam Fenomena dengan visual wajah iwan fals tersebut Wiryono menceritakan akan kekagumannya kepada sosok seorang Iwan yang selalu konsisten dengan pergerakan melalui karya-karya musiknya. Lukisan dengan gaya surialisme tersebut memberi gambaran sebuah perjuangan Iwan Fals dalam membangun kembali kondisi mentalnya ketika ditinggal mati oleh anaknya Galang Rambu Anarki, dimana saat itu Iwan harus tetap berjuang dan mampu bangkit dari keterpurukan. Berjuang melawan kenangan, itulah yang diaangkat dalam lukisan karya Wiryono tersebut.

Read More...

”Menjual Solo” lewat Film

Senin, 12 April 2010



Generasi sekarang merupakan generasi multimedia dimana informasi tanpa batas dapat diakses melalui jaringan layar monitor. Didukung oleh berkembangya teknologi Audio Visual, setiap orang semakin mudah mendapatkan peralatan untuk membuat film, dari yang hanya menggunakan kamera HP, handycam maupun dengan peralatan kamera profesional. Dengan komputer personal (PC) maupun laptop yang ada saat ini sudah cukup mampu digunakan untuk mengedit video, sehingga bisa dikatakan kebutuhan teknis untuk membuat film bukan sesuatu yang sulit lagi.

Banyak sumber belajar untuk bisa membuat film, dengan jejaring sosial facebook, tweeter, miling list atau lainnya terbukti secara efektif dapat untuk berkomunikasi dengan para pegiat film lain karena setiap orang dapat berinteraksi dan berkomunikasi dua arah bahkan banyak arah untuk mendapatkan sumber-sumber materi belajar tentang film. Selain dengan berjejaring didunia maya mengikuti forum diskusi dan pemutaran film yang dilakukan oleh komunitas bisa menjadi pilihan alternatif untuk belajar film, disamping belajar di dalam pendidikan formal.

Sejak munculnya ideom baru “bikin film itu mudah” pada tahun 2000 lalu, ada semacam tawaran bagi siapa saja untuk membuka ruang kreatifnya, khususnya buat generasi muda yang ingin mengemukakan pendapatnya melalui media film, hal ini tidak menutup kemungkinan bagi siapa saja untuk bereksplorasi dan menggunakan teknologi audio visual sebagai medium yang mewakili jati dirinya kedalam sebuah karya film sehingga anak muda yang dulunya hanya sekedar bisa menjadi penonton dan penikmat, kini menjadi pembuat.

Film merupakan salah satu media komunikasi, siapapun dapat dengan leluasa untuk memberi informasi kepada orang lain melalui media pandang-dengar ini, selain itu film dapat dijadikan sebagai media ekspresi untuk mengungkapkan gagasan dan pendapatnya, dari semua kegiatan ini akan menjadi sebuah dokumentasi penting untuk mencetak sejarah kehidupan sosial dan budaya di masanya. Film merupakan salah satu produk berbasis copyright, apabila diberdayakan secara optimal film dapat menjadi salah satu industri kreatif yang bisa menjadi sumber pendapatan bagi siapa saja yang terlibat di dalamya.

Komunitas film dan institusi pendidikan yang berbasis multimedia di Surakarta cukup banyak, dari sinilah akan terlahir sineas-sineas muda berbakat Dalam pemetaan komunitas film yang dilakukan Matakaca pada akhir tahun 2006, komunitas film mengalami pasang surut, banyak komunitas film muncul dan tenggelam hingga saat ini terdapat 12 komunitas film yang ada di Kota Solo. Komunitas tersebut terdiri dari 6 komunitas kampus (Kine Klub FISIP UNS, Kine Klub FISIP UMS, Kine Klub FISIP UNISRI, Kelompok Musik dan Film FSSR UNS, Unit Seni dan Film UMS, Masemar ISI) serta 6 komunitas non-kampus yang memproduksi film sambil menjalankan unit usaha audio visual.

Komunitas film di Solo mayoritas memiliki program kerja produksi dan apresiasi film, dengan memanfaatan pengetahuan serta peralatan yang ada para sineas telah banyak mengungkapkan ide dan gagasan ke dalam karya film pendek. Secara kuantitas memang produksi film pendek di Solo cukup banyak, tetapi usaha peningkatan kualitas karya untuk saat ini masih menjadi “pekerjaan rumah” sebagian besar filmaker.

Film pendek dapat dikategorikan sebagai film khusus, yang rata-rata memiliki durasi dibawah 30 menit, sebagai salah satu bentuk dari film Independen film jenis ini pada mulanya dibuat memang bukan untuk kepentingan komersial, film ini lebih dekat pergulatannya dengan orientasi individu maupun kelompok yang memposisikan film sebagai laboratorium kreatif dimana Film dijadikan sebagai wacana intelektual dan kebebasan berekspresi yang tidak dibelit oleh segala aturan-aturan yang ada dalam film mainstream, sehingga gagasan serta teknis dapat muncul secara segar karena lebih banyak mengangkat isu dan tema-tema lokal yang sederhana dengan cara bertutur lebih bebas dan unik.

“Tontonan telah menjadi tuntunan”, itu yang sering dikatakan banyak orang berkaitan dengan dampak film-film yang beredar di televisi maupun bioskop. Namun kritik serta umpatan saja tentu tidak akan mampu merubah apapun tanpa adanya tidakan yang nyata untuk mengimbangi laju industri film yang memang hanya untuk kepentingan komersial semata, oleh karena itu pemanfaatan media audiovisual yang “tepat guna” bagi kaum muda sangat dibutuhkan, hal itu bisa dimulai dengan memproduksi film pendek.

Kota Solo memiliki akar budaya yang cukup kuat, dari setiap unsur kebudayaan yang unik ini masih dapat diekplorasi lewat media audio visual. Dengan semakin banyaknya produksi film yang sarat dengan muatan lokal Solo, secara otomatis akan terlahir karya film yang berkarakter Solo dan kedepannya akan menjadi embrio filmaker Solo untuk bisa ikut serta mewarnai dunia industri kreatif di pasar global. Dengan itu semua diharapkan persepsi film Indonesia dengan gaya Elo dan Gue-nya Jakarta lambat laun akan bergeser menjadi film Indonesia dengan segala keberagaman bahasa dan budayanya.

Bertolak dari produksi film pendek sangat mungkin bisa dijadikan sebagai satu pijakan awal untuk bisa ”Menjual Solo” dalam bentuk produk budaya populer yang memiliki nilai edukasi ke pasar global. Tumbuhnya kesadaran komunitas film di Solo untuk mau memperkuat jaringan dengan dunia luar merupakan sebuah kemajuan yang cukup berarti karena dengan demikian telah dan akan semakin banyak dialog yang dilakukan komunitas film dengan komunitas film lain ditingkat nasional. Sedangkan di tingkat lokal sendiri, pemutaran dan diskusi film yang sering dilakukan komunitas film merupakan sarana komunikasi efektif antara filmaker, penonton, pengamat dan pegiat film, hal ini juga merupakan momen penting untuk dapat mendistribusikan karya film di tingkat lokal.

Untuk masalah distribusi film, selain filmaker dapat memajang karya-karyanya di dunia maya, mengikuti festival film juga dapat dijadikan jalur untuk mendistribusikan film dari Solo. Sebagai salah satu ruang perayaan bagi filmmaker untuk memamerkan karya-karya terbaiknya di depan publik yang lebih luas, festival film saat ini semakin banyak diselenggarakan di Indonesia baik dari tingkat lokal, nasional maupun internasional. Dengan menjamurnya festival-festival film itulah, tidak menutup kemungkinan film-film yang diproduksi oleh para sineas Surakarta akan memiliki banyak peluang untuk bisa ditonton, dinikmati, diapresiasi dan selanjutnya ”dibeli”. Dengan dukungan pemerintah, swasta dan masyarakat Solo niscaya ”Solo Kreatif, Berbudaya dan Sejahtera” akan benar-benar terwujud.

*JN
Read More...
banner125125 banner125125 banner125125 ads_box ads_box ads_box
 

Headline 4

Followers

Download